Mengenai Saya

Foto saya
belajar memaknai hidup, bertahan hidup, dan menuliskan hidup

Jumat, 21 Oktober 2011

contoh tugas agama al-a'raf 179


AL- A’RAF : 179
 
Dan Sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. mereka Itulah orang-orang yang lalai”.


ARTI MANUSIA MENURUT PENDAPAT PARA AHLI
Aristoteles : Hewan berakal sehat yang mengeluarkan pendapatnya dan berbicara berdasarkan akal dan  ….................pikirannya.
T. Hobbes   : Serigala bagi sesamanya.
C. Darwin   : Proses akhir dari evolusi hewan bersel satu sebelum akhirnya menjadi kera.

PERBANDINGAN SURAH AL-A’RAF DENGAN PENDAPAT PARA AHLI
Bila kita melihat pendapat dari ketiga para ahli diatas, kita bisa menyimpulkan bahwa semua mengartikan manusia sebagai hewan.  Seperti yang dikatakan oleh Aristoteles, bahwa manusia adalah hewan yang berakal sehat yang mengeluarkan pendapatnya berdasarkan akal dan pikirannya. Akan tetapi, sebagian manusia tidak menggunakan akal  dan pikirannya sesuai dengan perintah Allah. Begitu pula yang dijelaskan dalam surah Al-A’raf ayat 179, bahwa orang-orang yang lalai dalam menjalankan perintah Allah diibaratkan seperti binatang ternak. Seperti yang kita ketahui, bahwa binatang ternak selalu menuruti apapun perintah tuannya. Hidung mereka seperti dicocok, mau mengikuti kemanapun yang diarahkan oleh tuannya, tanpa mereka fikirkan dengan akal dan hati, padahal Allah telah memfitrahkan kedua hal tersebut pada manusia, namun mereka tetap saja tidak menggunakan akal dan pikirannya sesuai dengan perintah yang Allah firmankan dalam Al-Quran.
Pendapat Hobbes juga mengandung makna yang sama dengan isi surah Al-A’raf ayat 179 ini. “Manusia adalah serigala bagi sesamanya”. Serigala ataupun yang sejenisnya seperti anjing, hanya mementingkan diri mereka sendiri. Anjing yang mau saja tunduk dan patuh kepada tuannya demi kepentingan perutnya. Allah mengumpamakan setiap orang yang hanya mementingkan kepentingan dirinya sendiri dan syahwatnya seperti anjing, karena tidak ada yang lebih penting bagi anjing selain dirinya sendiri  dan syahwatnya. Dalam sebuah hadits shahih Rasulullah SAW bersabda: “tiada lagi perumpamaan yang lebih buruk bagi seorang yang mengambil kembali pemberiannya, seperti anjing yang menelan kembali muntahnya”. Allah menerangkan bahwa di antara sifat anjing itu adalah selalu menjulurkan lidahnya, untuk menjelaskan bahwa orang yang tidak pernah puas dengan karunia Allah dan terpedaya oleh godaan dunia hingga ia mengorbankan keimanannya meski diperingati atau tidak diperingati sama saja bagi mereka, seperti sifat anjing yang dihalau ataupun tidak dihalau dia tetap menjulurkan lidahnya.
Sedangkan untuk pendapat dari Darwin sepertinya sangat melenceng dari Al-Quran. Pendapat Darwin tentang evolusi pada zaman Yunani Kuno adalah pendapat yang tidak didasarkan terhadap agama, karena pada zaman itu mereka hanya mengenal mitos dan tahayul yang mereka anut. Menurut para evolusionis, sel hidup pertama terbentuk akibat berbagai reaksi kimia dalam zat tak-hidup yang tumbuh kian rumit dan semakin lama semakin beragam sampai manusia dihasilkan. Padahal Allah menciptakan manusia pertama berasal dari tanah liat lalu meniupkan ruh kedalamnya seperti yang difirmankan dalam surah Shaad ayat 71-72: “(Ingatlah)  ketika Tuhanmu berfirman kepada malaikat : Sesungguhnya Aku akan menciptakan manusia dari tanah, maka apabila telah Ku sempurnakan kejadiaannya dan Ku tiupkan kepadanya ruh (ciptaan) Ku, maka hendaklah kamu tersungkur dan bersujud padanya”. Disini terlihat bahwa manusia bukan diciptakan dari kera atau makhluk hidup yang lainnya. Secara ajaib, Allah menciptakan manusia dari suatu zat yang tak-hidup. Ya, begitulah keajaiban Allah, apapun yang Dia inginkan akan terjadi, seperti dalam firman Allah, surah Al-An’am ayat 73: “Dan Dia lah yang menciptakan langit dan bumi dengan benar. Dan benarlah perkataannya waktu Dia mengatakan: “Jadilah, lalu terjadilah” dan di tangannya lah segala kekuasaan di waktu sangkakala ditiup. Dia mengetahui yang ghaib dan yang nampak. Dan Dia lah yang Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui”.

KESIMPULAN
Dari pendapat ketiga ahli filsafat diatas, dua diantaranya yaitu pendapat Aristoteles dan Hobbes sejalan dengan surah Al-A’raf ayat 179 yang menerangkan tentang perumpamaan manusia yang lalai akan perintah Allah yang diumpamakan sebagai hewan ternak ataupun serigala dan sejenisnya, seperti anjing yang hanya mementingkan diri mereka sendiri dan mengedepankan syahwat mereka tanpa mempedulikan perintah yang telah Allah firmankan dalam Al-Quran, padahal sebagai manusia mereka telah dianugerahkan fitrah berupa akal dan hati agar mereka mau berpikir dan membedakan mana yang haq dan mana yang bathil.
Sedangkan pendapat dari Darwin adalah pendapat yang melenceng dari Al-Quran, karena ia berpendapat bahwa manusia berasal dari hewan bersel satu dan berevolusi menjadi kera. Padahal dalam pandangan Islam tidak mengenal tentang evolusi. Dalam Al-Quran sendiri,  Allah telah menjelaskan bahwa manusia diciptakan dari tanah liat, suatu zat yang tak-hidup, bukan diciptakan dari kera atau makhluk hidup yang lainnya. Tidak ada proses evolusi alamiah yang terjadi, melainkan adanya penciptaan Allah yang ajaib dan langsung dengan memerintahkan, “Jadilah!..maka terjadilah”.
Dengan diturunkannya ayat ini, kita diharapkan untuk bisa memahami isi dari ayat tersebut, bahwa di naraka Jahanam nanti, jin dan manusialah yang paling banyak. Padahal mereka telah diberikan hati dan akal untuk berpikir, dipergunakan untuk memahami ayat-ayat Allah, diberikan  mata untuk melihat tanda-tanda kekuasaan Allah, dan di berikan telinga untuk mendengar ayat-ayat Allah. Namun, mereka tidak menggunakannya sesuai dengan perintah Allah. Maka dari itu Allah menggambarkan manusia dan jin yang lalai dan sesat sebagai binatang ternak.
Semoga kita bisa memanfaatkan segala fitrah yang diberikan oleh Allah dengan baik, sesuai dengan perintahnya dan kegunaannya yang sebenarnya agar kita  tidak menjadi sebagian dari makhluk Allah yang sesat dan lalai, yang diibaratkan sebagai binatang ternak yang hanya mementingkan dirinya sebdiri tanpa mempedulikan perintah dari Allah.
Amiin..





Sumber :

2 komentar: